Minggu, 26 Juli 2015

4 Aktivator Windows yang Paling Terkenal Sepanjang Masa

4 Aktivator Windows yang Paling Terkenal Sepanjang Masa

 

4 Aktivator Windows yang Paling Terkenal Sepanjang Masa

Tidak dapat dipungkiri apabila Sistem Operasi Windows merupakan Sistem Operasi terbanyak yang paling digunakan saat ini. Sistem Operasi Windows memiliki beberapa kelebihan dibandingkan OS lainnya yakni user-friendly, tampilannya mudah, cara penggunaannya mudah, installnya gampang dan juga banyak didukung aplikasi serta games. 
Namun, walaupun memiliki berbagai macam kelebihan, Sistem Operasi Windows tetaplah memiliki kelemaham yakni mudah terserang virus, malware dan program jahat lainnya. Dan kelemahan yang paling utama adalah OS ini tidaklah gratis. 
Oleh karena itu banyak orang berlomba-lomba menggunakan berbagai macam cara untuk mengaktivasi OS Windows mereka ( membajak ) baik itu menggunakan serial number / product key, menggunakan loader sampai activator.
Berikut adalah beberapa Aktivator OS Windows yang paling terkenal & tentu saja paling sering digunakan di Dunia.

1. Windows Loader

Windows Loader adalah sebuah program kecil yang dapat mengaktivasi Windows secara permanen. Windows Loader ini dibuat oleh seorang programmer bernama Daz, oleh karena itulah Windows Loader ini sering juga disebut Windows Loader by Daz.
Screenshoot Windows Loader
Loader ini mampu mengaktivasi hampir semua versi Windows, mulai dari Windows Vista hingga Windows Server 2012. Cara kerja Windows Loader ini adalah dengan menginjeksi SLIC ( System Licensed Internal Code ) kedalam Windows sebelum Windows tersebut melalui proses booting. Dan dengan cara ini, Windows yang sudah terinstall Windows Loader akan mampu "membodohi" Microsoft WAT (Windows Activation Technologies) dan berfikir Windows yang sudah terinstall Windows Loader sebuah OS Windows Asli. 
Cara ini diklaim sebagai cara yang paling aman, nyaman, dan benar-benar permanen dalam mengaktivasi Windows. Bahkan hingga saat ini, Windows Loader masih banyak digunakan sebagai loader utama dalam mengaktivasi Windows. 
Namun sayangnya, Windows Loader ini sudah tidak dapat digunakan untuk OS Windows 8 keatas, karena Microsoft sudah mengubah proses aktivasi di Windows 8.

2. KMSMicro 

Saat Windows 8 baru keluar sekitar tahun 2012, muncul sebuah activator baru bernama KMSMicro. KMSmicro dibuat oleh seorang programmer dari Russia bernama Ratiborus.
KMSMicro ini bisa dibilang sebagai salah satu activator pertama yang mampu mengativasi Windows 8 disaat Windows Loader sudah tidak mampu mengaktivasi versi lanjutan dari Windows 7. 

3. KMSnano / KMSpico

KMSnano aka KMSpico adalah sebuah aktivator lanjutan dari KMSMicro dan dapat digunakan untuk Windows Vista, Windows 7, Windows 8, Windows 8.1 serta Office 2010 / 2013. KMSpico ini dibuat oleh programmer bernama Heldigard.
KMSpico bisa dibilang juga sebagai aktivator "permanen" Windows. Walaupun banyak yang bilang KMSpico ini "hanya" mengaktivasi Windows selama 180 Hari, pada nyatanya, KMSpico mengaktivasi Windows setiap hari pada saat Windows tersebut booting. Jadi bisa dibilang juga sebagai aktivator "permanen" walaupun bukan True Permanent seperti Windows Loader.
Sampai saat ini juga KMSpico banyak digunakan untuk mengaktivasi Windows 8 / 8.1 ataupun Microsoft Office 2013. 

4. Microsoft Toolkit

Microsoft Toolkit juga bisa dibilang sebagai salah satu aktivator yang paling banyak digunakan saat ini. Microsoft Toolkit ini pada awalnya hanya untuk aktivasi produk Microsoft Office, namun dalam perkembangannya, Microsoft Toolkit mampu mengaktivasi OS Windows, mulai dari Windows Vista hingga Windows 8.1. 
Screenshoot Microsoft Toolkit
Kelebihan Microsoft Toolkit dibandingkan Activator yang lain adalah, Microsoft Toolkit memiliki beberapa tools tambahan seperti untuk membackup & merestore aktivasi Windows serta Microsoft Office. Mampu mengubah file ISO Microsoft Office dari Volume License ke Retail serta sebaliknya, dan lain sebagainya. Microsoft Toolkit dibuat oleh programmer bernama CODYQX4.
Sebenarnya masih ada beberapa aktivator Windwos & Office yang digunakan seperti KMS_VL_ALL, KMS by Alex, dan lain sebagainya. Namun beberapa aktivator Windows tersebut jarang dikenal.
Kesimpulan
Saya yakin kalian pasti pernah mendengar / mendownload / menggunakan salah satu aktivator diatas. Pada dasarnya, para pembuat aktivator diatas tetap menyarankan kalian untuk membeli OS Windows yang asli & bukan menyalahgunakan aktivator tersebut untuk pembajakan. 
Aktivator digunakan hanya untuk keperluan edukasi & memberikan kalian versi full untuk masa percobaan. Jika kalian suka terhadap Software yang kalian gunakan, tetap beli yang asli untuk men-support developer software tersebut.

Selasa, 07 Juli 2015

Bila Hari ‘Ied Jatuh pada Hari Jum’at

ARTIKEL 1
Di antara keistimewaan Idul Fitri 2015ini adalah akan bertepatan dengan hari Jum’at. Ini menunjukkan bertemunya dua hari utama, yang sama-sama hari ‘ied. Banyak yang menanyakan bagaimana jika Hari Raya atau Idul Adha jatuh pada hari Jum’at, apakah shalat Jum’atnya gugur karena telah melaksanakan shalat ‘ied?
Mudah-mudahan penjelasan berikut dapat menjawab hal ini.[1]
Apabila hari raya Idul Fithri atau Idul Adha bertepatan dengan hari Jum’at, apakah shalat Jum’at menjadi gugur karena telah melaksanakan shalat ‘ied? Untuk masalah ini para ulama memiliki dua pendapat.
Pendapat Pertama: Orang yang melaksanakan shalat ‘ied tetap wajib melaksanakan shalat Jum’at.
Inilah pendapat kebanyakan pakar fikih. Akan tetapi ulama Syafi’iyah menggugurkan kewajiban ini bagi orang yang nomaden (al bawadiy). Dalil dari pendapat ini adalah:
Pertama: Keumuman firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al Jumu’ah: 9)
Kedua: Dalil yang menunjukkan wajibnya shalat Jum’at. Di antara sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ
“Barangsiapa meninggalkan tiga shalat Jum’at, maka Allah akan mengunci pintu hatinya.”[2] Ancaman keras seperti ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu wajib.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ
Shalat Jum’at merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: [1] budak, [2] wanita, [3] anak kecil, dan [4] orang yang sakit.[3]
Ketiga: Karena shalat Jum’at dan shalat ‘ied adalah dua shalat yang sama-sama wajib (sebagian ulama berpendapat bahwa shalat ‘ied itu wajib), maka shalat Jum’at dan shalat ‘ied tidak bisa menggugurkan satu dan lainnya sebagaimana shalat Zhuhur dan shalat ‘Ied.
Keempat: Keringanan meninggalkan shalat Jum’at bagi yang telah melaksanakan shalat ‘ied adalah khusus untuk ahlul bawadiy (orang yang nomaden seperti suku Badui). Dalilnya adalah,
قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ
“Abu ‘Ubaid berkata bahwa beliau pernah bersama ‘Utsman bin ‘Affan dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat ‘ied sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya (dua hari ‘ied). Siapa saja dari yang nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.”[4]
Pendapat Kedua: Bagi orang yang telah menghadiri shalat ‘Ied boleh tidak menghadiri shalat Jum’at. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir.
Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair. Dalil dari pendapat ini adalah:
Pertama: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,
أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».
“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan.”[5]
Asy Syaukani dalam As Sailul Jaror (1/304)  mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). An Nawawi dalam Al Majmu’ (4/492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). ‘Abdul Haq Asy Syubaili dalam Al Ahkam Ash Shugro (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. ‘Ali Al Madini dalam Al Istidzkar (2/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). Syaikh Al Albani dalam Al Ajwibah An Nafi’ah (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih.[6] Intinya, hadits ini bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil.
Kedua: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [ashobas sunnah].”[7] Jika sahabat mengatakan ashobas sunnah(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.
Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.[8]
Kesimpulan:
  • Boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum’at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini.
  • Pendapat kedua yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied tidak menghadiri shalat Jum’at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.
  • Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.
  • Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied dan dalam shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[9]
Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).
  • Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum. Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at).[10]
Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin.  Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

ARTIKEL 2

Berikut adalah fatwa Lajnah Daimah tentang peristiwa hari raya yang bertepatan dengan hari jumat.

Fatwa no. 21160 diterbitkan tanggal 8 Dzulqa’dah 1420 H.

Alhamdulillah wahdah, was shalatu was salamu ‘ala man laa nabiyya ba’dah, amma ba’du,
Terdapat banyak pertanyaan terkait peritiwa hari raya yang bertepatan dengan hari jumat. Baik idul fitri maupun idul adha. Apakah jumatan tetap wajib dilaksanakan bagi mereka yang telah melaksanakan shalat id? Bolehkah mengumandangkan adzan di masjid yang diadakan shalat dzuhur? Dan beberapa pertanyaan terkait lainnya. Untuk itu, Lajnah Daimah menerbitkan fatwa berikut:
Dalam permasalahan ini, ada beberapa hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dana keterangan sahabat yang menjelaskan hal itu. Diantaranya:
Pertama, hadis Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepadanya: “Apakah anda pernah mengikuti hari raya yang bertepatan dengan hari jumat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” “Lalu apa yang beliau lakukan?” Jawab Zaid:
صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل
“Beliau shalat id, dan memberi keringanan untuk tidak shalat jumat. Beliau berpesan: ‘Siapa yang ingin shalat jumat, hendaknya dia shalat.’” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, ibn Majah, Ad-Darimi).
Kedua, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون
“Pada hari ini terkumpul dua hari raya (jumat dan id). Siapa yang ingin shalat hari raya, boleh baginya untuk tidak jumatan. Namun kami tetap melaksanakan jumatan.” (HR. Abu Daud, Ibn Majah, Ibnul Jarud, Baihaqi, dan Hakim).
Ketiga, hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:
اجتمع عيدان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى بالناس ثم قال: من شاء أن يأتي الجمعة فليأتها ومن شاء أن يتخلف فليتخلف
Pernah terkumpul dua hari raya dalam sehari di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau mengimami shalat id, dan berkhutbah: “Siapa yang ingin jumatan, silahkan datang jumatan. Siapa yang ingin tidak hadir jumatan, boleh tidak hadir.” (HR. Ibn Majah).
Sementara dalam riwayat At-Thabrani di Al-Mu’jam Al-Kabir, dinyatakan bahwa Ibnu Umar menceritakan:
اجتمع عيدان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم: يوم فطر وجمعة، فصلى بهم رسول الله صلى الله عليه وسلم العيد، ثم أقبل عليهم بوجهه فقال: يا أيها الناس إنكم قد أصبتم خيراً وأجراً وإنا مجمعون، ومن أراد أن يجمع معنا فليجمع، ومن أراد أن يرجع إلى أهله فليرجع
“Pernah terkumpul dua hari raya dalam sehari di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, idul fitri dan hari jumat. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat id, lalu berkhutbah di hadapan para sahabat: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah mendapatkan kebaikan dan pahala, namun kami akan tetap melaksanakan jumatan. Siapa yang ingin ikut jumatan bersama kami, silahkan ikut. Siapa yang ingin pulang ke keluarganya, silahkan pulang.”
Keempat, hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اجتمع عيدان في يومكم هذا فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مجمعون إن شاء الله
“Terkumpul dua hari raya pada hari ini. Siapa yang ingin shalat id, maka boleh baginya untuk tidak ikut jumatan. Dan kami akan tetap melaksanakan jumatan, insyaaAllah.” (HR. Ibn Majah, kata Al-Bushiri: Sanadnya shahih dan perawinya tsiqat).
Kelima, riwayat dari Atha bin Abi Rabah, beliau menceritakan:
“Abdullah bin Zubair pernah mengimami kami shalat id pada hari jumat di pagi hari. Kemudian (si siang hari) kami berangkat jumatan. Namun Abdullah bin Zubair tidak keluar untuk mengimami jumatan, sehingga kami shalat (dzuhur) sendiri-sendiri. Ketika itu, Ibnu Abbas sedang di Thaif. Ketika kami datang ke Thaif, kami ceritakan kejadian ini dan beliau mengatakan, ‘Dia (Ibn Zubair) sesuai sunah.’” (HR. Abu Daud). Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah terdapat tambahan, bahwa Ibnu Zubair mengatakan:
رأيت عمر بن الخطاب إذا اجتمع عيدان صنع مثل هذا
“Saya melihat Umar bin Khatab, ketika ada dua hari raya yang bersamaan, beliau melakukan seperti itu.”
Keenam, riwayat dari Abu Ubaid, bekas budak Ibnu Azhar, bahwa beliau pernah mengalami kejadian berkumpulnya dua hari raya di zaman Utsman bin Affan. Ketika itu hari jumat. Kemudian beliau shalat hari raya, lalu berkhutbah:
يا أيها الناس إن هذا يوم قد اجتمع لكم فيه عيدان، فمن أحب أن ينتظر الجمعة من أهل العوالي فلينتظر، ومن أحب أن يرجع فقد أذنت له
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya pada hari ini terkumpul dua hari raya. Siapa diantara penduduk pedalaman yang ingin menunggu jumatan maka hendaknya dia menunggu (tidak pulang). Dan siapa yang ingin pulang, aku izinkan dia untuk pulang.” (HR. Bukhari dan Malik dalam Al-Muwatha’)
Ketujuh, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa terkumpul dua hari raya di hari jumat, beliau berkhutbah setelah shalat id:
من أراد أن يجمع فليجمع، ومن أراد أن يجلس فليجلس
“Siapa yang ingin menghadiri jumatan, silahkan datang. Siapa yang ingin tetap di rumah, silahkan duduk di rumahnya (tidak berangkat jumatan).” (HR. Ibn Abi Syaibah dan Abdur Razaq).
Berdasarkan beberapa hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, keterangan dan praktek sejumlah sahabat radhiyallahu ‘anhum, serta pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama, maka Lajnah Daimah memutuskan hukum berikut:
  1. Orang yang telah menghadiri shalat id, mendapat keringanan untuk tidak menghadiri jumatan. Dan dia wajib shalat dzuhur setelah masuk waktu dzuhur. Akan tetapi jika dia tidak mengambil keringanan, dan ikut shalat jumat maka itu lebih utama.
  2. Orang yang tidak menghadiri shalat id maka tidak termasuk yang mendapatkan keringanan ini. Karena itu, kewajiban jumatan tidak gugur baginya, sehingga dia
  3. wajib berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat jumat. Jika di masjid tempatnya tidak ada shalat jumat maka dia shalat dzuhur.
  4. Wajib bagi takmir masjid atau petugas jumatan untuk mengadakan jumatan di masjidnya, untuk menyediakan sarana bagi mereka yang tidak shalat id atau orang yang ingin melaksanakan jumatan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya: “Namun kami tetap melaksanakan jumatan” sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis di atas.
  5. Orang yang shalat id dan mengambil keringanan untuk tidak jumatan, dia wajib shalat dzuhur setelah masuk waktu dzuhur.
  6. Tidak disyariatkan mengumandangkan adzan di hari itu, kecuali adzan di masjid yang diadakan shalat jumat. Karena itu, tidak disyariatkan melakukan adzan dzuhur di hari itu.
  7. Pendapat yang menyatakan bahwa orang yang shalat id maka gugur kewajibannya untuk shalat jumat dan shalat dzuhur pada hari itu, adalah pendapat yang tidak benar. Oleh sebab itu, para ulama menghindari pendapat ini, dan menegaskan salahnya pendapat ini, karena bertentangan dengan ajaran dan menganggap ada kewajiban yang gugur tanpa dalil.
Allahu a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa aalihii wa shahbihii wa sallam..
Ditandatangi oleh:
Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh
Anggota : Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghadyan, Bakr bin Abdullah Abu Zaid, dan Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan
Demikian Fatwa Lajnah Daimah, dengan beberapa penyesuaian.
Dialihbahasakan oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Sabtu, 20 Juni 2015

I LOVE RAMADHAN



I LOVE RAMADHAN
By Dr. H Ahmad Yani, MM. MBA.

Tiga orang musafir yg tgh menempuh perjalanan yg sangat panjang dan melelahkan. Tatkala hari mulai menjelang senja, mereka meneruskan perjalanan melintas pada sebuah perbukitan dg batu cadas yg keras nan tajam. Matahari bergeser pada peraduannya, malam pun tiba sementara ketiganya tetap meneruskan perjalanan dalam kegelapan malam penuh misteri. Tanpa mereka sadari, mereka telah memasuki dan berada dalam sebuah goa gelap yg penuh dg lorong.
                Ketiganya tersesat, mrk tdk tahu hrs berjalan ke arah mana, sedangkan keadaan gua tersebut masih misteri bagi mereka. Mrk memutuskan utk tdk beristirahat dan terus mencari kemungkinan adanya jalan keluar. Tiba2 dari dlm gua terdengar suara menggelegar yg hampir memecahkan gendang telinga, namun penuh saran, “Ambillah benda yang berserakan di skitar kaki kalian.
                Mendengar suara tersebut, dalam suasana kaget bercampur, sikap mereka ternyata tidak sama. Org pertama berpikir bahwa “suara| tersebut sbenarnya hanya ilusi yg dipengaruhi rasa takut, atau suara hantu yg sekedar menakut2i dan mengganggunya . Dia Acuh dg suara itu. Org kedua berpikir sejenak, “suara tersebut memang nyata, tp utk apa aku hrs menambah beban dg memungut benda yg tdk ketahuan apa gerangan. Namun demikian ia tetap mengambil satu barang sekedar iseng, siapa tahu berguna utk perjalanan selanjutnya. Berbeda dg kedua temannya, org ketiga justru mendengarkan itu sbg gold moment.
                Menurutnya suara tsb tdk mgkin terdengar kalau tdk memberi manfaat sebesar2nya kpdku. Akhirnya ia memutuskan utk melepaskan semua bebannya, termasuk bekal makanannya dan menggantinya dg benda yg berserakan di lantai gua, mengisi semua saku baju dan celananya serta tas tpt pakaiannya, hingga jalannya terseok2. Setelah merespon suara tersebut, tanpa mereka sadari kaki mereka membawa mrk keluar dari gua. Karena diburu oleh kegelapan, mrk memutuskan utk berjalan terus hingga mrk tiba dibawah sebatang pohon yg cukup rindang dan teduh.
                Mrk sudah tdk perduli lagi dimana arah goa yg mrk lalui. Alhasil fajar menyingsing, mrk bangun dan segera memeriksa kondisi masing2. Hal pertama yg mrk periksa adalah “Benda” yg mrk sentuh dan ambil semalam di gua. Ternyata itu adalah EMAS. Orang pertama kaget bukan kepalang, sebab hanya dia yg tdk mengambil sekeping pun. Sedangkan orang kedua menyesal, sebab mengapa ketika di gua ia hanya iseng mengambil sekeping Emas, orang ketiga yg sudah mengambil ratusan keeping pun menyesal karena seandainya ia membuang saja pakaian yg ada agar tpt pakaian tsb bisa digunakan sbg tpt emas. Mrk ingin kembali namun mrk sdh tdk tahu lagi dmn arah gua tsb.
                Kisah tsb boleh jadi benar, boleh jadi hanya anekdot yg dibuat oleh orang2 bijak terdahulu utk mjd bahan pembelajaran kita semua. Saat ini kita berada pada uatu masa yg merupakan kesempatan emas, lbh dari batangan emas yg diceritakan diatas, yaitu bulan ramadhan. Segala keutamaan bulan Ramadhan dan amaliyah dilipatgandakan pahalanya hingga beribukali lipat semuanya sudah menjadi pengetahuan kita. Mampukah kita memanfaatkan kesempatan emas ini? Apakah kita tergolong golongan musafir  yg iseng hanya mengambil dan mempergunakan kesempatan seadanya atau tidak sama sekali? Kita berharap menjadi musafir yg benar2 tahu menggunakan kesempatan emas ini
                Rasululloh cukup mjd teladan terbaik bgmn memanfaatkan ramadhan sbg kesempatan emas. Dalam beberapa hadist dikemukakan bhw apabila ramadhan dating maka beliau berkata pada sahabatnya:
               Telah datang kepadamu bulan ramadhan, bulan penghulu segala bulan. Ucapkanlah selamat datang padanya.Telah datang bulan yg penuh keberkahan, maka alangkah mulianya bulan yg datang itu.”
                Ada dua ungkapan yg sering diucapkan utk menyabut bulan Ramadhan yaitu :”Ahlan wa sahlan ya ramadhan dan marhaban ya ramadhan”.
                Kedua ungkapan ersebut bermakna sama yaitu “selamat datang”. Ahlan terambil dari  kata ahl yg berarti keluarga,mudah,juga dataran rendah, karena mudah dilalui. Ahlan wa sahlan adalah ungkapan “selamat datang” yg didalamnya tersirat makna “Anda berada di keluarga yg mudah (lapang)”.
Marhaban  terambil dari kata rahb, yg artinya luas atau lapang. Sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dg lapang dada, penuh kegembiraan, serta dipersiapkan ruang yg luas.
                Sedangkan bulan ramadhan adalah nama bulan kesembilan dalam penanggalan hijriyah. Ramadhan terambil dari kata ramidha yg artinya panas terik yg membakar. Penamaan bulan ini antara lain karena bulan ramadhan wilayah arabiah biasanya pada musim panas yg berkepanjangan, atau boleh jadi dalam konteks  Indonesia dan wilayah diluar Arabia yg tdk panas ketika ramadhan datang, hal tersebut bermakna bahwa bulan ramadhan hrs berguna sbg bulan membakar dosa2 kita dg melakukan kebaikan sebanyak2nya.
                Marhaban ya ramadhan berarti selamat datang ramadhan. Mengandung arti bahwa kita menyambutnya dg lapang dada, penuh kegembiraan, serta mempersiapkan diri jasmani dan rohani dan waktu sebaik2nya utk melakukan aktivitas amal shaleh selama satu bulan tersebut.Kehadirannya kita harapkan agar jiwa dan raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah SWT.
                Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Rasululloh setiap menjelang akhir bulan Syaban mengucapkan tahniah atas kedatangan bulan Ramadhan, hadist nabi Saw:
                Dalam satu riwayat dari Abu Hurairah bhw Rasululloh apabila telah datang bulan ramadhan menggembirakan sahabat2nya. Sesungguhnya telah datang bulan ramadhan adalah bulan yang diberkahi. Alloh memerintahkan kalian utk berpuasa didalamnya. Dalam bulan ramadhan ini semua pintu2 surga(kebaikan) dibuka, dan pintu2 neraka (kejahatan) ditutup, setan2 dibelenggu. Didalamnya ada satu malam yg lebih baik dari seribu bulan
                Dalam salah satu hadist yg pjg yg diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dar Salman ra, bahwa Rasululloh Saw pada hari terakhir bulan syaban berkhutbah (terjemahannya):
                “Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yg senantiasa mulia lagi penuh berkah, yaitu bulan yg didalamnya ada satu malam yg lbh baik drpd seribu bulan, bulan yg telah Alloh jadikan Puasanya sbg kewajiban dan qiyam (shalat) malam harinya sbh tathawu (ibadah sunah). Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada Alloh dh suatu kebaikan didalamnya, samalah ia dg org yg menunaikan fardhu dibulan lain. Dan barang siapa menunaikan fardhu di bulan ramadhan samalah dia menunaikan tujuh puluh fardhu diluar bulan ramadhan. Ramadhan adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya surga. Ramadhan itu bulan penuh pertolongan dan bulan Alloh memberikan rejeki kepada para mukmin didalamnya, maka barang siapa memberi makan kepada seseorang baginya sama pahala orang itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala org yg diberi makanan berbuka puasa”.
Kata orang bijak kesempatan emas hanya datang satu kali, kita masih bersyukur masih dipertemukan dengan ramadhan kali ini. Tapi mampukah kita memaksimalkan ramadhan tahun ini? Anggaplah Ramadhan ini adalah ramadhan terakhir kita, belum tentu kita mendapatkan kesempatan emas ini tahun depan. Manfaatkan sebesar2nya.

Senin, 01 Juni 2015

Enam Hal yang Dirahasiakan Allah Swt

Enam Hal yang Dirahasiakan Allah Swt

“Allah Swt meletakkan dengan rahasia enam hal pada enam perkara, yaitu:
 
1. Allah  Swt merahasiakan ridha-Nya diantara ketaatan hamba.
Di antara semua ketaatan yang hamba lakukan, Dia letakkan ridha-Nya pada hamba tersebut secara rahasia agar setiap hamba bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan. Maka, tidak sepantasnya engkau remehkan mengerjakan ketaatan yang (tampak) kecil, siapa tahu disitu Allah Swt letakkan ridha-Nya padamu). Sayidina Umar bin Khattab R.a adalah Mukmin yang dahsyat menjalani ketaatan kepada Allah Swt. Beliau adalah Sahabat Nabi Muhammad Saw. Kokoh dalam iman. Hidup zuhud. Dipilih kemudian menjadi khalifah, beliau memimpin dengan ‘adil. Berkata dengan benar, bahkan Nabi Muhammad Saw bersabda (menjamin) setiap ucapan Umar bin Khattab R.a pasti benar. Sangat cerdas. 
Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa Umar bin Khattab R.a dikaruniai oleh Allah Swt bisa tahu ayat (tertentu) Al-Qur’an bakal turun. Setelah wafat, beliau hadir dalam mimpi para Sahabat dan mengabarkan betapa Allah  Swt meridhainya karena pernah membelas-kasihi seekor burung pipit yang lemah.
 
Imam Ghazali adalah ulama besar penghidup ilmu agama dan Hujjatul Islam. Baliau sangat kuat mengerjakan ketaatan kepada Allah Swt. Beliau (berkat dikaruniai Allah Swt mampu “melipat waktu”) dalam sehari menunaikan ribuan shalat sunnah dan mengkhatamkan Al-Qur’an ditambah kesibukan menulis kitab. Diriwayatkan, setelah Imam Ghazali wafat, Allah Swt ridha kepada beliau lantaran amal kebajikan menahankan diri mencelupkan pena ke dalam tinta hingga seekor lalat bisa berkecukupan mereguk tinta yang beliau pakai menulis kitab.
 
Demikianlah bila Allah Swt meridhai seorang hamba. Allah Swt letakkan secara rahasia di antara sekian ketaatan-ketaatan yang hamba itu kerjakan hingga ketaatan yang (tampak) kecil. Ribuan ketaatan telah dikerjakan Sayidina Umar bin Khattab R.a atau Imam Ghazali, namun Allah  Swt justru mengaruniai ridha-Nya atas ketaatan yang (tampak) remeh hamba.
 
Ketaatan kecil laksana pemantik api. Ketaatan yang besar-besar bagai bensin. Pemantik api menyalakan bensin hingga mesin pun bergerak. Bila tak ada bensin, pemantik bakal sia-sia saja memercikkan api karena tak beroleh apa pun. Sebaliknya, bila bensin tersedia banyak namun pemantiknya tidak ada maka bensin yang banyak tadi tidak akan menyala menggerakkan mesin.
 
Ketaatan yang besar dan ketaatan yang kecil/remeh, keduanya sekaligus mesti dikerjakan. Andai Sayidina Umar bin Khattab R.a atau Imam Ghazali tidak (meski mustahil) mengerjakan ketaatan-ketaatan yang besar-besar kepada Allah Swt niscaya Dia tidak akan menganugerahkan ridha-Nya (dengan ridha yang Dia letakkan atas ketaatan yang kecil).
 
Ridha kepada hamba Dia letakkan atas ketaatan tertentu diantara ketaatan-ketaatan (besar atau kecil) yang hamba itu kerjakan. Ridha Allah Swt juga diberikan berbeda antara hamba satu dengan hamba yang lain. Ketahuilah, surga memiliki banyak pintu masuk (ada pintu shalat, zakat, puasa, haji, berbelas kasih, jihad, mengaji ilmu agama, jujur, dan ribuan pintu lainnya). Setiap pintu masuk surga tersebut diperuntukkan bagi rombongan hamba menurut ketaatan masing-masing yang diridhai Allah Swt .
 
2. Allah menyembunyikan murka-Nya dalam kemaksiatan seorang hamba-Nya.
Tujuannya adalah agar hamba-hamba-Nya selalu berupaya dengan seluruh daya dan upaya meninggalkan kemaksiatan dan takut terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan itu. Meskipun kemaksiatan itu hanyalah kemaksiatan yang sangat kecil, karena bisa saja dengan kemaksiatan yang sangat kecil itu justru terdapat murka Allah Swt. Memang dalam beberapa kasus Allah Swt menampakkan kemurkaan-Nya, seperti orang yang sedang mabuk tiba-tiba tersambar petir padahal tidak ada hujan dan cuaca yang cerah. Atau ketika sedang bermesraan dengan bukan pasangan yang dihalalkan tiba-tiba meninggal dunia. Namun, kasus-kasus seperti itu hanyalah sebagian kecil saja dan mayoritas kemurkaan Allah Swt dirahasiakan oleh Allah Swt.
 
3. Allah Swt menyembunyikan kapan Malam Lailatul Qadar muncul di bulan Ramadhan.
Dengan merahasiakan datangnya Malam Lailatul Qadar ini diharapkan dapat memberikan semangat kepada orang-orang yang beriman untuk selalu menghidupkan bulan Ramadhan baik siang maupun malam selama satu bulan penuh, agar dapat melahirkan ketakwaan dalam diri sesuai dengan tujuan pelaksanaan puasa Ramadhan (QS. Al-Baqarah [2]: 183). Kerahasiaan Malam Lailatul Qadar ini memang cukup beralasan, karena nilainya lebih baik dari 1000 bulan atau setara dengan 83 tahun 4 bulan (QS. Al-Qadr [97]: 1-5).
 
4. Allah Swt menyembunyikan keberadaan para wali di antara manusia.
Agar setiap orang selalu menghormati orang lain dan tidak mudah meremehkan orang lain karena status sosial yang disandangnya. Siapa tahu, orang yang diremehkan itu adalah wali Allah  Swt.
 
5. Allah Swt menyembunyikan kapan datangnya kematian kepada seseorang.
Sebenarnya ini merupakan sebuah cara agar manusia selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian dengan selalu taat beribadah kepada Allah Swt dan melaksanakan sunnah Rasulullah Saw. Namun, masih banyak yang melupakan persiapan menyambut kedatangan maut yang pasti akan menjemput. Buktinya, masih banyak yang bermaksiat kepada Allah Swt dan tidak mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Korupsi merajalela, perselingkuhan, perzinahan, mabuk-mabukkan, mencuri, meninggalkan shalat lima waktu, tidak mengeluarkan zakat, tidak mau berpuasa Ramadhan dan kemaksiatan lainnya yang dapat dengan jelas kita lihat dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita. Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang mempersiapkan kedatangan kematian itu.
 
6. perkara yang dirahasiakan oleh Allah Swt yang keenam adalah Ash-Shalatul Wustha (shalat yang paling utama) dalam shalat lima waktu.
Supaya setiap orang muslim senantiasa memelihara shalat lima waktunya dengan baik.
 
Pada intinya semua perkara yang dirahasiakan oleh Allah Swt bertujuan agar hamba-Nya selalu berupaya untuk beribadah kepada Allah Swt, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya tanpa terkecuali. Dan tentunya disempurnakan dengan mengikuti dan melaksanakan sunnah Rasulullah Saw. Mudah-mudahan dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. 
 
Amiiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Arti sebenarnya "Habis Gelap Terbitlah terang", RA Kartini

Kisah Kartini Mempelopori Penerjemahan Al-Quran

 

Kisah Kartini Mempelopori Penerjemahan Al-Quran
Salah satu murid Mbah Kyai Sholeh Darat yang terkenal, tetapi bukan dari kalangan ulama adalah Raden Ajeng Kartini. Karena RA Kartini inilah Mbah Sholeh Darat menjadi pelopor penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Jawa. Menurut catatan cucu Kyai Sholeh Darat (Hj. Fadhilah Sholeh), RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Qur’an.
Biografi
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hinggaHamengkubuwana VI. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Surat Curhat Galau
Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;
Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?
Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.
Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.
Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?
RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.
Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.
Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.
Bertemu Kyai Sholeh Darat
Kalau membaca surat surat Kartini yang diterbitkan oleh Abendanon dari Belanda, terkesan Raden Ajeng Kartini sudah jadi sekuler. Namun kisah berikut ini semoga bisa memberi informasi baru mengenai apresiasi Kartini pada Islam dan Ilmu Tasawuf.
Mengapa? Karena dalam surat surat RA Kartini yang notabene sudah diedit dan dalam pengawasan Abendanon yang notabene merupakan aparat pemerintah kolonial Belanda plus Orientalis itu, dalam surat surat Kartini beliu sama sekali tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Alhamdullilah, Ibu Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, tergerak menuliskan kisah ini.
Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.
Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.
Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.
Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.
Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.
Habis Gelap Terbitlah Terang
Dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Qur’an diterjemahkan karena menurutnya  tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.  Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan al-Qur’an.  Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf “arab gundul” (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah.
Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah  dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.  Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:
Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”
Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:
Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqoroh: 257).
Dalam banyak suratnya kepada Abendanon,  Kartini banyak mengulang kata “Dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Toot Licht.” Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.
Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kyai Sholeh Darat keburu wafat.
Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.
Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.
Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; 
Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis;
Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.
(sumber: http://www.sarkub.com/)
(sumber: http://http://sejarahri.com/)

 

Selasa, 03 Februari 2015

9 Target Hidup Di Usia 30



9 Target Hidup Di Usia 30


intriknews.com Usia 30-an memang sering dianggap “sakral” dan penting. Di usia ini kamu sudah memasuki dunia kerja, mulai mengenyam banyak pengalaman, punya banyak skill. Di usia ini pula mulai muncul keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Jika kamu udah siap untuk menempuh fase baru dalam kehidupanmu, berikut ini beberapa target yang perlu kamu capai saat menginjak usia 30 tahunan. Tentunya kamu selalu ingin mendapatkan hidup yang lebih baik kan?

1. Umur 30-an adalah saatnya menjalani kehidupan yang lebih mapan. 
Sepanjang umur 20-anmu pastikan kamu telah menjalani pekerjaan yang cukup menjanjikan
Di saat menginjak usia 30 kamu udah gak seharusnya masih berkelana hilir mudik buat mencari pekerjaan yang sesuai denganmu. Jauh sebelum berusia kepala tiga kamu seharusnya udah membangun jaringan yang bisa membawa kontribusi dalam pengembangan karir kamu.

Jaringan yang udah kamu punya sebelumnya semestinya telah membawa kamu ke pekerjaan/jabatan yang udah mantap bagi kamu. Mantap dalam artian gajinya cukup (bahkan bisa nabung), suasana yang nyaman dan memberi kesempatan luas utuk kamu meniti karir ke level top.

2. Hidup bukan hanya tentang diri sendiri. Lihat lagi dirimu sendiri: sudahkah kamu punya sesuatu untuk dibagi?
Sukses bukan hanya soal mengisi gelasmu sendiri sampai penuh. Pribadi yang sukses adalah dia yang juga bisa memberikan sesuatu bagi orang lain. Di usia 30-an, seharusnya kamu sudah bisa membagi pengalamanmu demi kemajuan orang di sekitarmu.

Karena udah mengumpulkan banyak pengalaman, kamu udah mulai menjadi mentor bagi bawahan dan angkatan kerja baru. Ketika para junior ini memandang kamu sebagai panutan, maka jangan gegabah dalam bertindak. Jangan pula menganggap ini sebagai beban karena memberi ilmu pada junior itu membawa beberapa keuntungan:

Mentoring memberimu kesempatan untuk menemukan rekan junior yang punya potensi besar untuk berperan besar bagi kantor di masa depan.
Selain memberi ilmu kamu juga mendapat ilmu baru: skill kepemimpinan dan komunikasi.

3. Lupakan hura-hura dan bersenang-senang. Kini saatnya kelebihan uang masuk kantung investasi dan rekening simpanan
Di usia sekarang kamu udah harus benar-benar menyiapkan masa depan secara matang. Tabungan semestinya bukan hanya berbentuk rekening gede di bank. Tapi usahakan memecah tabunganmu dalam berbagai bentuk bisa seperti aset, lahan, asuransi dan surat hutang.

Investasi juga jadi hal yang tidak lagi asing buatmu. Kamu benar-benar telah mempersiapan masa depan lewat ikut instrumen investasi yang menguntungkan. Memang membutuhkan waktu lama dan usaha untuk mencapai hal ini tapi jika kamu udah tahu dari sekarang, kamu udah tahu mau dibawa ke mana uang itu jika udah di tanganmu nantinya.

4. Kebugaran tubuhmu juga perlu dijaga. 
Kamu tak akan punya metabolisme sehebat saat ini selamanya
Seiring bertambahnya umur, tubuh kamu makin rentan terhadap penyakit. Kamu pun makin sadar bahwa kesehatan adalah aset yang tak ternilai harganya.Untuk itu kamu berusaha lebih keras untuk menjaga kesehatan.

Agar tetap fit jadwalkan untuk berolahraga dan tetapkan targetnya. Misal, kamu menargetkan untuk berlari dengan jarak total sejauh 5 kilometer dalam seminggu (atau sebulan). Jika berlari bukan latihan yang cocok bagimu, bikin target untuk menurunkan berat badan, berhenti merokok, dan peningkatan kebugaran. Dengan begitu tubuh kamu akan memilih sendiri program latihan apa yang cocok bagi kamu.

5. Walau sudah memasuki kepala 3 semangat belajarmu harus terus dipompa. Tak ada salahnya kini mengambil S2 atau bahkan S3
Mapan secara karier sebelum usia 30-an tidak membuatmu bisa begitu saja berhenti belajar. Mengejar pengalaman, belajar untuk menjadi lebih bijak, dan penerapan ilmu masih bagian dari proses belajar yang tidak pernah selesai kamu lakoni. Setelah kamu memiliki kestabilan karir dan pribadi gak ada salahnya kalau kamu mulai memikirkan untuk kembali duduk di bangku kuliah untuk gelar pasca sarjana atau gelar sarjana bagi kamu yang belum sempat kuliah langsung selepas masa SMA.

Memang benar kuliah membutuhkan dedikasi yang tinggi untuk dilaksanakan namun jika kamu gak punya waktu di siang hari coba pertimbangkan untuk mengambil program kelas malam seperti yang sering dilakukan para profesional. Selain itu, di era internet seperti sekarang kamu juga bisa mengambil kelas-kelas online.

6. Buka dirimu seluas-luasnya. Kenal orang baru, perkaya dirimu dengan keterampilan yang sebelumnya belum akrab denganmu
Jika kamu mengira kamu udah terlalu tua untuk mempelajari hal baru maka sadarilah bahwa selalu ada ruang untuk menambah ilmu baru. Ikutin kursus bahasa yang selama ini bikin kamu penasaran, pelajari cara memasak dari ahlinya,atau mendaftar di kelas kerajinan tangan merupakan beberapa hal yang gak ada salahnya kamu coba.

Dengan mempelajari hal baru, kamu dapat membuktikan kalau pikiran dan badan kamu masih punya semangat anak muda. Punya bahasa baru yang dikuasai bikin traveling kamu gak seribet sebelumnya dan punya skill anyar entah itu dibidang kuliner, kerajinan, komputer dan lain-lain bisa memberi kamu keiatan di kala bengong. Siapa tahu jadi sumber pemasukan jika kamu memutuskan pensiun nantinya.

7. Kepemilikan tempat tinggal sebelum umur 30 akan sangat melegakan. Paling tidak uangmu tak harus banyak terbuang untuk biaya kost atau kontrakan
Walau didapat melalui KPR, memiliki rumah sendiri akan memberi kamu kenyamanan tiada tara. Ini merupakan pencapaian yang harus kamu kejar sesaat kamu udah mantap dengan pekerjaan kamu. Tapi harap diingat mengajukan KPR butuh persiapan dan perhitungan matang, pastikan kamu siap berkomitmen selama bertahun-tahun dengan pihak kreditor.
8. Sebelum masuk umur 30-an bebaskan dirimu dari hutang dan ciptakan kemerdekaan finansial
Seringkali disebut juga sebagai “Merdeka secara Finansial”, namun apakah merdeka namanya jika kamu masih memiliki KPR dan/atau cicilan mobil yang jumlahnya melebihi pendapatanmu sendiri?

Menjadi usia 30-an gak mengahruskan kamu benar-benar lepas dari hutang, namun setidaknya kamu udah berada pada posisi “Aman” yakni, punya pekerjaan, punya rumah sendiri dan memiliki tabungan. Satu yang penting, kamu bisa menyesuaikan kemampuan finansial dengan gaya hidup.

9. Ini adalah saat terbaik untuk mulai berkeluarga. Dengan begitu kamu punya waktu yang cukup panjang untuk menikmati kebahagiaan berdua
Ada yang bilang kalau jodoh adalah urusan Tuhan namun ada juga jodoh ada di tanganmu asalkan kamu memantaskan diri, makanya Hipwee gak mau menentukan pada umur berapa kamu harus menikah.

Namun jika dilihat dari kacamata sains kamu harusnya menikah setelah di atas usia 25 tahun. Artinya, sebelum memasuki usia 30 tahun kamu sudah harus tahu apakah mau menikah atau tidak, dan mengetahui apa yang harus kamu lakukan dengan keputusanmu itu.

Dari 9 hal di atas, sudah berapa yang kamu raih hari ini?